Menu
Your Cart

Yarn 15: Happiness

Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
-20 %
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Yarn 15: Happiness
Rp48,000.00
Rp38,400.00

“Berarti nggak masalah, dong, kalau
Ceria masuk MIPA tapi ambil Biologi?”
“Bisa aja, sih. Tapi kalau kamu tanya Mama, yang
banyak hitung-hitungannya itu lebih spesial. Nggak
sembarang orang bisa, kan?”
Bagi Mama yang seorang dosen Matematika, hitunghitungan
itu spesial. Mama selalu membanding-bandingkan
nilai rapor Ceria dengan Reina—anak tetangga sebelah yang
pandai Matematika—tanpa melihat nilai Bahasa Inggris
Ceria yang sempurna. Karena itu, sepanjang hidupnya
Ceria memaksakan diri untuk menjadi seperti Reina. Agar
Mama dan Papa bangga. Agar ia tak perlu lagi dibayangbayangi
kesuksesan Reina. Agar hidupnya bahagia. Ceria
bahkan memilih berkuliah di jurusan Matematika
tanpa menyadari ia telah melepaskan sesuatu
yang benar-benar ia inginkan. Sesuatu yang
membuat dirinya benar-benar bahagia.

Tulis Ulasan

Silahkan login atau daftar untuk mengulas